Sosialisasi Hasil Penelitian Arkeologi Situs Neolitik Sepanjang DAS Cibereum Kab. Lebak

Penelitian dan Pengembangan – Sosialisasi Hasil Penelitian Situs Neolitik Sepanjang DAS Cibereum oleh UPT Balai Arkeologi Jawa Barat bertempat di Hotel Bumi Katineung Rangkasbitung, Selasa (11/11/2019).

pemaparan sosialisasi oleh Ibu Nurul sebagai peneliti UPT Balai Arkeologi menerangkan bahwa tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk menjawab hunian neolitik awal sungai di jawa bagian barat dengan ditemukannya artefak sisa-sisa kegiatan manusia masa lampau hingga diyakini bahwa das cibereum dahulu sudah dihuni oleh manusia.

Manusia menghuni DAS cibereum diperkirakan berada pada lapisan budaya neolitik, Kemungkinan besar manusia pada kala itu cenderung untuk pergi ke teras sungai yang banyak memiliki sumber batuan. Kecenderungan ini tentunya menunjukan bahwa manusia prasejarah pada kala itu lebih memilih mencari bahan sebagai alat batu dari hasil erosi sungai daripada sumber aslinya. Berdasarkan hasil pollen bahwa situs mempunyai lingkungan vegetasi yang cenderung sama. Lingkungan saat aktivitas berlangsung merupakan lahan terbuka dengan tanah yang cukup subur.  Dekat dengan sungai, dan sumber bahan untuk perkakas juga tersedia di area situs.

Tinggalan beliung merupakan salah satu ciri budaya dari masyarakat penutur bahasa Austronesia dan banyak ditemukan di DAS Cibereum ciri dari penutur bahasa Austronesia adalah :

  • Pertanian padi-padian
  • Rumah Panggung
  • Domestikasi anjing dan babi
  • Tembikar berdasar membulat berhias slip merah, cap, gores, dan tera tali dengan bibir melipat ke lua, kumparan penggulung benang dari tanah liat
  • Beliung batu dengan penampang lintang persegii 4 yang diasah
  • Batu pemukul kulit kayu
  • Batu pemberat jala

Sebaran lokasi situs memanjang sejajar dengan alur sungai dengan jumlah 3 situs di sungai utama, 16 di anak sungai faktor lingkungan  mempunyai pengaruh terhadap pemilihan  lokasi situs dan ragam temuan yang ditemui adalah beliung, calon beliung, tatal, dan alat serpih.

Selanjutnya paparan dilengkapi oleh perwakilan dari kabupaten lebak di paparkan oleh Bapak Paryono, S.Si., M.Ap sebagai Kabid Litbang Bappeda Kab. Lebak dalam paparannya beliau menjelaskan Cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Untuk melestarikan cagar budaya, negara bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945,  Pasal 32 (amandemen) yaitu :

  • Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya;
  • Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

Perlindungan hokum juga sangat dibutuhkan sehingga dapat mengurangi ancaman kerusakan dan kepunahan terhadap benda – benda cagar budaya agar sesuai dengan Undang – undang No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yaitu :

Cagar Budaya berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan perlu dikelola oleh pemerintah dan pemerintah daerah dengan meningkatkan peran serta masyarakat untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya;

Dan pemerintah daerah Kab. Lebak juga mendukung mengelolaan cagar budaya karena sesuai dengan misi ke 2 kabupaten Lebak yaitu : Meningkatkan Produktifitas perekonomian daerah melalui pengembangan pariwisata.